Jumat, September 30, 2022

Lean & Agile Organization

Lean & Agile Organization

Berbagai ketidakmenentuan yang kita alami di semua lini dan semua sektor industri akibat pandemi Covid-19, telah mengantarkan kita pada satu pertanyaan besar di kalangan praktisi Human Resources, yaitu: Tren apakah yang akan mengemuka di dunia ketenagakerjaan Indonesia pada 2021 dan seterusnya?

Sebelum menjawab tren ketenagakerjaan 2021, marilah kita sejenak melihat tiga peristiwa yang telah terjadi sepanjang tahun 2020:

  1. Pengurangan jumlah SDM di tubuh banyak perusahaan, yang biasanya diiringi dengan penambahan beban kerja atau diversifikasi ragam penugasan bagi karyawan yang masih dipertahankan oleh perusahaan.
  2. Work From Home (WFH), yang dalam beberapa bulan sejak pecahnya pandemi Covid-19 hingga berakhirnya tahun 2020, telah melahirkan analisa yang cukup solid akan efektivitas dan efisiensinya bagi organisasi perusahaan.
  3. Intensifikasi penggunaan teknologi di semua lini organisasi perusahaan. Dari mulai rapat jarak jauh dengan menggunakan teknologi rapat daring, hingga penggunaan perangkat lunak, aplikasi ponsel, hingga sistem robotik di sejumlah jenis industri yang memang membutuhkannya.

Pandemi telah mengakibatkan banyak perusahaan “terpaksa” menjalankan ketiga peristiwa itu secara bersamaan.

“Some Start-up” by Jun Seita is licensed under CC BY 2.0

Waktu berjalan, hingga memasuki tahun 2021. Perusahaan yang terpaksa mempercepat pelaksanaan atau menjalankan ketika peristiwa tersebut telah memiliki data solid dan analisa lengkap dari ketiga peristiwa itu, yang kesimpulannya secara umum adalah:

Ternyata, dengan intensifikasi teknologi di semua lini organisasi, ditambah lagi dengan Work From Home (dan / atau sinergis dengan Work From Office / WFO); perusahaan dapat berjalan baik-baik saja, bahkan menjadi lebih efektif dan lebih efisien, dengan jumlah SDM yang lebih sedikit.

Inilah cikal-bakal akan semakin intensnya tren Lean & Agile Organization di semakin banyak perusahaan di masa depan.

Lean Organization dalam konteks artikel ini saya anjurkan untuk kita pahami sebagai organisasi yang ramping, efektif, dan efisien; biasanya dicirikan dengan jumlah Sumber Daya Manusia yang dirancang sesedikit mungkin sejak awal, berkat seleksi di tahap rekrutmen yang lebih ketat, penetapan standar kompetensi SDM yang lebih tinggi, dan efisiensi beban kerja individual yang lebih baik.

Intinya, Lean Organization akan benar-benar memperhitungkan kebutuhan SDM dengan amat sangat cermat. Rekrutmen tidak dilakukan dengan mudah dan jor-joran.

Ketika Lean Organization telah berjalan efektif, maka itu akan menjadi sisi mata uang yang tak terpisahkan dari Agile Organization.

Jika organisasi tradisional misalnya memiliki 7 lapisan hirarki dari tingkatan Staff hingga CEO, di dalam Agile Organization, bisa jadi hanya ada 3 lapisan hirarki dari tingkatan Staff hingga CEO.

Pucuk pimpinan tertinggi dalam Agile Organization akan lebih banyak bersentuhan langsung dengan hirarki organisasi di bawah. Hambatan manajerial banyak dipangkas. Ini dimungkinkan karena intensnya penggunan teknologi yang mendampingi pucuk pimpinan, sehingga tidak lagi urgen membutuhkan manajerial lini tengah sebagai “perantara”.

Apakah konsekuensi logis dari Lean & Agile Organization? Jumlah SDM yang sedikit.

Memang benar bahwa definisi “sedikit” di tiap organisasi perusahaan berbeda-beda, banyak konteks dan variabel yang mempengaruhi.

Misalnya perusahaan A sebelum pandemi memiliki 100 karyawan. Setelah pandemi, perusahaan A bisa jadi hanya memiliki tinggal 50 karyawan saja, dan jalannya organisasi (ternyata) baik-baik saja berkat intensifnya penggunaan teknologi dan intensifikasi peran HR sebagai Strategic Business Partner.

Dengan semakin sedikit jumlah SDM yang dibutuhkan, konsekuensi selanjutnya bagi organisasi adalah:

  1. Tensi drama & suhu politik organisasi cenderung lebih dingin, karena lebih sedikit jumlah kepala beserta kepentingan-kepentingannya. Organisasi dapat lebih terfokus pada visi-misi, strategi, taktik, dan performa.
  2. Meminimalkan distorsi informasi akibat panjangnya hirarki komunikasi. Semakin pendek hirarki, maka semakin tinggilah akurasi konten maupun konteks komunikasi dari pucuk hingga ke bagian terbawah organisasi.
  3. Hubungan Industrial dan isu ketenagekerjaan yang lebih sederhana. Perusahaan menjadi lebih gesit & tangkas dalam mengarungi masa krisis.

Ke depannya, para praktisi HR sudah bukan lagi dihadapkan pada pola pekerjaan untuk mengembangkan organisasi semata, tetapi akan lebih ke arah optimalisasi Lean & Agile Organization beserta konsekuensi-konsekuensi Hubungan Industrial yang menyertainya.

Ini jelas merupakan tantangan besar bagi para praktisi HR dengan spesialisasi Hubungan Industrial. Di satu sisi, mereka harus menaati aturan ketenagakerjaan. Namun di sisi lain lainnya, mereka juga dituntut harus fleksibel, gesit, dan tangkas dalam menavigasi dinamika & perubahan besar yang terjadi belakangan ini.

Belum lagi dengan berbagai dinamika yang menyertai implementasi UU Cipta Kerja. Menarik untuk kita cermati, bagaimana UU Cipta Kerja beserta produk-produk hukum turunannya yang akan diterbitkan, dapat berkontribusi langsung bagi terwujudnya Lean & Agile Organization.

Dari sisi para peniti karir, penting sekali agar kita dapat menavigasi diri di tengah semua gejolak dan dinamika ini, dengan cara:

  1. Lakukanlah pengembangan diri tanpa henti, terutama kepada ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang relevan bagi tuntutan masa depan.
  2. Upayakanlah membangun lebih dari satu sumber penghasilan, alias wirausaha. Jangan pernah menggantungkan nasib kita hanya kepada satu sumber penghasilan saja. Kini semakin jamak melihat karyawan yang memiliki usaha atau proyek sampingan, tanpa mengganggu profesi utamanya.
  3. Berjejaringlah dan bersilaturahmilah dengan sebanyak mungkin orang. Kuasailah teknologi dan manfaatkanlah media sosial untuk membangun hal-hal yang konstruktif bagi pemecahan masalah banyak orang.

Marilah kita arungi tahun 2021 dengan pengharapan terbaik & strategi yang cerdas.

Peter Febian

Human Resources Advisor, Praktisi Startup, dan Praktisi Komunikasi Publik

Profil Kontributor
Peter Febian | Start-Up Enthusiast | Hybrid-Entrepreneurship & Circular Economy Practitioner | Green & Renewable Energy Enthusiast | People Developer & Social Impact Practitioner; through Public Communication, Storytelling, and Technology | Human Resources & Communication Advisor - PT. Green Energi Utama & PT. Garuda Sinar Perkasa Grup | Co-Founder & Pembina Yayasan Gema Inspirasi Filantropi (GIFt Foundation | Chief Communication Officer - Tukangsayur.co Sept 2020 - Nov 2020

Ingin bertanya seputar dunia kerja dan permasalahan praktis yang ditemui silahkan klik link dibawah ini “GRATIS” :

https://duniahr.com/ruang-konsultasi/

Jangan lupa follow sosial media kami :

https://www.instagram.com/duniahrcom/

https://www.linkedin.com/company/duniahr-com/

Mitra Kolaborasi :

Pasang Lowongan Kerja Gratis 100% tanpa syarat hanya di Bankloker.com

Related Articles

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

DUKUNG KAMI

396PengikutMengikuti
113PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles