Jumat, September 30, 2022

Transformasi Perusahaan Menuju New Normal After Covid 19

Transformasi Perusahaan Menuju New Normal After Covid 19

Redaksi DuniaHR.com meminta pendapat dari Praktisi Human Resource Bpk. Henry Y.K Pangemanan terkait Transformasi Perusahaan Menuju New Normal After Covid 19, kepada Redaksi Henry Y.K Pangemanan menjelaskan sebagai berikut:

Saat wabah Covid 19 melanda sebagian besar negara di dunia, banyak perusahaan yang mulai bertumbangan karena mungkin memang tidak ada yang pernah mitigasi kondisi bisa seperti ini.

Selalu ada hikmah dibalik setiap masalah, dan ada pembelajaran baru yang kita bisa peroleh dari setiap pengalaman yang sudah kita jalani.

Latar belakang pemikiran :

Virus Corona kecil kemungkinan bisa hilang dari seluruh dunia, mungkin sama dengan virus tuberkolosis yang sudah ditemui pada jasad manusia yang hidup 4000 tahun lalu, virus corona atau covid 19 akan ada terus berdampingan dengan kehidupan manusia.

Dengan adanya virus yang kemungkinan tidak akan hilang, maka kita sebagai umat manusia harus tetap survive berusaha dan bekerja dalam kondisi berdamai dengan virus (hidup bersama dengan virus covid 19 sama seperti 1/3 populasi manusia kemungkinan sudah terpapar virus tubercolosis yang sudah membuat korban 67.000 kematian pertahun hanya di Indonesia),

Yang harus dilakukan dalam era new normal hidup bersama virus covid 19, tubercolosis dan virus2 lainnya cuma hanya bisa dengan cara :

  1. Ubah pola pikir/mindset,
  2. Ubah pola hidup/kebiasaan pribadi dan cara bekerja sehari-hari, serta
  3. Ubah pola hubungan interaksi dengan sesama manusia.

Tanpa melakukan ketiganya apalagi vaksin atau obat ampuh belum ditemukan, sudah pasti tinggal tunggu waktu kita yang akan dikuasai oleh virus apapun nama dan bentuknya.

Terkait dan didasari 3 analisa diatas, ditambah dengan pembelajaran dari kehidupan yang sudah kita lalui mulai Maret 2020 sampai saat ini, saat era new nornal tentu sudah ada perubahan besar yang kita harus lakukan untuk menjalankan kembali roda perekonomian, diantaranya :

Analisa jenis – jenis pekerjaan yang ada ditempat kerja sebagai berikut :
  1. Pembagian fungsi kerja melalui analisa job desc setiap jabatan dan setiap karyawan. Minimal masukan dalam 2 (dua) golongan besar yakni mana pekerjaan bersifat strategik (konsep/plan, analisa, pembuat kebijakan), dan mana pekerjaan yang bersifat administratif atau operasional yang membutuhkan kehadiran fisik dikantor.
  2. Perubahan mindset/pola pikir, yakni dari pola berpikir bekerja harus dikantor selama sekian jam menjadi pola pikir bekerja itu targetnya lebih spesifik yakni :
    1. proses kerja,
    2. waktu dibutuhkan menyelesaikan pekerjaan,
    3. dan hasil kerja.
  3. Terkait point 1 dan 2 hasilnya adalah pembagian 2 (dua) jenis pekerjaan yakni:
    1. fungsi Strategik yang membutuhkan pemikiran, analisa, pembuatan planning, IT, Desain Grafis dll
    2. fungsi Administrasi/Operasional yang membutuhkan kehadiran fisik misalnya staff untuk terima dan kirim dokumen/barang, membuat filling/perbanyak dokumen, call center, security, OB, driver dll.
  4. Untuk bidang pekerjaan strategik bisa diatur bahwa mereka bisa bekerja dari rumah (WFH), bisa bekerja dari lapangan (Work From Field) atau bekerja di Kantor Cabang terdekat dari rumah/tempat tinggal/domisilinya) tanpa harus selalu kelihatan fisik di kantor sementara belum tentu ada hal yang dikerjakan.

Bukan lagi menargetkan karyawan datang tepat waktu, pulang tepat waktu malah dinilai tidak loyal kepada perusahaan dan menganggap yang pulang larut malam adalah mereka pekerja keras dan besar kontribusi pada perusahaan.

Untuk level Strategik yang terdaftar di satu kantor harusnya bisa juga bekerja di Kantor cabang terdekat dari rumahnya, misalnya karyawan yang tadinya berkantor di Jakarta padahal rumahnya di Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi.

Dalam situasi ini dia bisa bekerja dari kantor cabang yang berlokasi dekat dengan rumahnya. Bisa jadi mereka hanya perlu masuk kantor pusat/asalnya cuma 1 atau 2 kali seminggu, sisanya bekerja di tempat lain.

Untuk mereka ini tidak perlu disediakan working space terpisah/sendiri di kantor (kecuali level pejabat tertentu), cukup sediakan 1 ruangan dengan meja dan perlengkapan kerja yang bisa dipakai bersamaan secara bergantian (tidak full atau penuh setiap hari).

Target pekerjaan sekali lagi adalah result dan bukan jam kerja. Termasuk dalam level strategik ini adalah level Manajer Senior keatas dikantor pusat.

Kalau ini bisa dijalankan maka pejabat senior tersebut bisa lebih banyak waktu turun bekerja sambil mengawasi operasional kantor cabang termasuk cabang didekat kediaman masing – masing.

Bisa diterapkan mereka dalam seminggu mungkin hanya perlu 1 – 2 kali hadir dikantor.

  1. Untuk sifat pekerjaan administrasi / operasional yang perlu kehadiran fisik di kantor, juga tidak selalu membutuhkan ruang kecuali fungsi khusus seperti receptionist, serta call center, cukup meja besar tanpa sekat dan disediakan loker untuk menaruh barang – barang pribadi sehingga tidak mengganggu jam kerja. Target team administrasi/supporting juga bukan jumlah jam bekerja di kantor, tetapi efektifitas pekerjaan. Semakin cepat karyawan menyelesaikan tugas (kecuali job tertentu seperti receptionist, security dan OB) maka karyawan bisa pulang lebih cepat dari kantor. Sebaliknya kalau memang pekerjaan belum selesai saat jam kantor normal berakhir, maka karyawan harus lembur menyelesaikan pekerjaannya.
  2. Dalam kondisi New Normal maka seluruh Protokol Kesehatan yang saat ini sudah berjalan baik akan dilanjutkan misalnya meeting dengan vidcon, kapasitas peruang kerja tidak penuh sesak sehingga sirkulasi tidak baik, sanitasi seperti hand sanitizer dan sabun cuci tangan selalu tersedia, penggunaan masker diruang yang sangat tertutup dan kurang ventilasi untuk pergantian udara dll.
Analisa SWOT

Kekuatan atau keuntungan kalau bisa dijalankan adalah :

  1. Efisiensi dalam hal penyewaan space dikantor pusat, penggunaan listrik, air.
  2. Kualitas hidup karyawan meningkat karena bisa bekerja dekat dengan keluarga, tidak stress macet2an dijalan menuju kantor setiap hari dan dengan semangat kerja tinggi  harusnya korelasi dengan produktifitas yang meningkat.
  3. Mengurangi interaksi karena terlalu banyak orang dalam 1 ruangan yang bisa menjadi penularan berbagai penyakit akibat virus maupun bakteri. Jumlah karyawan terbatas dalam satu ruangan juga terbukti mengurangi waktu tidak efektif karena ramai2 ngobrol dan gossip untuk hal tidak perlu. Mereka akan konsentrasi pada hasil pekerjaan karena semakin cepat dan tepat hasil pekerjaannya, mereka bisa pulang lebih cepat.

Kelemahan program ini diantaranya, ada kemungkinan perusahaan melakukan rasionalisasi jumlah karyawan, atau minimal memindahkan sebagian karyawan ke bagian yang jauh berbeda dengan yang dikerjakan sebelumnya.

Hal ini bisa saja dilakukan kalau terbukti bahwa dengan hanya 50 sampai 80 persen karyawan yang ada dalam 1 bagian saat ini ternyata bisa menyelesaikan 100% pekerjaan..

Ancaman program ini kemungkinan besar adalah penolakan terutama di level stake holder serta pimpinan karena mindset yang masih menggunakan pola pikir lama dan sulit berubah misalnya kantor yang hebat adalah banyaknya yang hadir di kantor, senakin malam pulang menandakan semakin loyal karyawan dsb..

Situasi transisi menuju New Normal dan bentuk sosialisasi yang hati-hati serta terencana dengan baik akan sangat menentukan apakah ancaman akan jadi kenyataan atau bisa diminimalisir atau bahkan dihilangkan.

Peluang kedepan kalau proses New Normal ini bisa dilaksanakan, pasti akan didapat efektifitas dan efisiensi oleh perusahaan..

Kalau sudah berjalan efektif dan efisien maka akan mempercepat pertumbuhan serta pastinya peningkatan keuntungan perusahaan.

Hal-hal penunjang untuk merealisasikan New Normal Era:

  1. IT harus kuat. Semua jenis pekerjaan wajib terecord sehingga bisa dimonitor sampai dimana hasil yang sudah dicapai setiap karyawan di level apapun.
  2. Komitmen atasan wajib satu arah dalam memimpin langsung keberhasilan transformasi sambil siap melakukan corective action.
  3. Evaluasi dampak, yang dilajukan setelah evaluasi 1 bulan, 3 bulan dan 6 bulan; diantaranya bisa saja berupa perampingan struktur organisasi kalau ternyata bisa dilakukan penggabungan beberapa jenis pekerjaan.

Selamat datang New Normal era

Berubah atau tertinggal,

Yakin Bisa.. Pasti Bisa…

Henry Y.K Pangemanan

Praktisi Human Capital

Kepala Divisi Human Capital di salah satu Badan Usaha Milik Negara | Kandidat Doktor SDM, Universitas Negeri Jakarta, Program Pendidikan Reguler Angkatan ke 55 – 2016, Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Related Articles

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

DUKUNG KAMI

396PengikutMengikuti
113PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles